Perjalanan Umroh Plus 2016 di Jakarta Utara Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Perjalanan Umroh Plus 2016 di Jakarta Utara Alhijaz Indowisata didirikan oleh Bapak H. Abdullah Djakfar Muksen pada tahun 2010. Merangkak dari kecil namun pasti, alhijaz berkembang pesat dari mulai penjualan tiket maskapai penerbangan domestik dan luar negeri, tour domestik hingga mengembangkan ke layanan jasa umrah dan haji khusus. Tak hanya itu, pada tahun 2011 Alhijaz kembali membuka divisi baru yaitu provider visa umrah yang bekerja sama dengan muassasah arab saudi. Sebagai komitmen legalitas perusahaan dalam melayani pelanggan dan jamaah secara aman dan profesional, saat ini perusahaan telah mengantongi izin resmi dari pemerintah melalui kementrian pariwisata, lalu izin haji khusus dan umrah dari kementrian agama. Selain itu perusahaan juga tergabung dalam komunitas organisasi travel nasional seperti Asita, komunitas penyelenggara umrah dan haji khusus yaitu HIMPUH dan organisasi internasional yaitu IATA.

Perjalanan Umroh Plus 2016 di Jakarta Utara

2. Zaman Minangkabau Timur Istilah ini dipinjam dari istilah yang dikemukakan oleh Drs. M. D. Mansoer dkk, dalam bukunya, Sej

2. Zaman Minangkabau Timur Istilah ini dipinjam dari istilah yang dikemukakan oleh Drs. M. D. Mansoer dkk, dalam bukunya, Sejarah Minangkabau, dikatakannya Minangkabau mengalami dua periode, yaitu periode Minangkabau Timur yang berlangsung antara abad ketujuh sampai kira-kira tahun 1350 dan periode Minangkabau Pagaruyung antara tahun 1347-1809. Dikatakannya, bahwa kerajaan-kerajaan lama, pusat perdagangan lada, pusat perekonomian, politik dan budaya yang pertama timbul dan berkembang di Minangkabau adalah di lembah aliran Batang Hari dan Sungai Dareh. Daerah itu berkembang pada abad ke tujuh sampai pertengahan abad keempat belas. Secara geografis memang pantai timur pulau Sumatera lebih memungkinkan untuk dilayari oleh kapal-kapal dagang yang dapat berlayar sampai masuk jauh kepedalaman. Daerah pantai Sumatera Timur ini pulalah yangdahulu didatangi oleh nenek moyang orang Minangkabau yang berlayar sampai ke daerah Mahat di Kabupaten Lima Puluh Kota sebelah Utara. Pedagang-pedagang Islam yang mula-mula ke Minangkabau juga melalui daerah ini, sehingga perdagangan diwaktu periode Minangkabau ini menjadi sangat ramai sekali, bukan itu saja, Islam pertama pun masuk dari sini, baik yang dibawa oleh pedagang-pedagang dari Arab sendiri, maupun yang dibawa oleh pedagang-pedagang dari Persia, Hindustan, Cina, India dan lain-lain. Pada permulaan abad Masehi perpindahan bangsa-bangsa dari utara ke selatan telah berakhir. Mereka telah menetap di sepanjang pantai kepulauan Nusantara. Setelah mereka menempati kepulauan Nusantara dan hidup secara terpisah, akhirnya karena lingkungan alam kehidupan bahasa yang mereka pergunakan pun mengalami perubahan seperti yang kita kenal sekarang dengan suku-suku bangsa Minangkabau, Jawa, Bugis, Madura, Sunda, Bali dan lain-lain. Pada zaman purbakala, di Asia terdapat dua jalan perdagangan yang ramai antara Barat dan Timur, yaitu melalui darat dan laut, jalan yang melalui darat disebut jalan Sutera, mulai dari daratan Cina melalui Asia Tengah sampai ke Laut Tengah. Perhubungan darat ini sudah mulai semenjak abad kelima sebelum Masehi. Waktu dimulainya perpindahan bangsa Melayu Muda ke arah selatan. Perhubungan darat ini terutama menghubungkan antara Cina dengan Benua Eropah (Romawi) diwaktu itu dibawah raja Iskandar Zulkarnain dan selanjutnya dengan menyinggahi daerah sepanjang perjalanan seperti India, Persia dan lain-lain. Perhubungan laut ialah dari Cina dan Indonesia melalui selat Malaka terus ke Teluk Persia dan Laut Tengah. Perhubungan laut ini menjadi sangat ramai pada awal abad pertama Masehi, karena jalan darat mulai tidak aman lagi. Sejak waktu itulah daerah-daerah di Pantai Timur Sumatera dan Pantai Utara Jawa menjadi daerah perhubungan antara perdagangan Arab, India dan Cina. Keadaan ini memungkinkan pedagang-pedagang Indonesia, termasuk di dalamnya pedagang-pedagang Minangkabau ikut aktif berdagang. Dengan aktifnya pedagang-pedagang Minangkabau dalam perdagangan dengan India, maka terbuka pulalah perhubungan antara kebudayaannya. Dari sini dapat kita lihat masuknya pengaruh Hindu ke Minangkabau melalui daerah pantai timur pulau Sumatera. Dalam abad kedua setelah Indonesia mempunyai perhubungan dengan India dan selama enam abad berturut-turut pengaruh Hindu di Indonesia besar sekali. Jadi karena keadaan, pedagang-pedagang Minangkabau ikut terlibat dalam kancah lalu lintas perdagangan yang ramai di Asia. Keadaan itu pulalah yang menyebabkan Minangkabau di daerah aslinya sendiri yang jauh terletak di pedalaman. Karena selat Malaka sangat ramai dilalui oleh kapal-kapal dagang dari Cina dan India maka salah satu bandar diselat itu bertumbuh dengan pesatnya sehingga akhirnya umbuh menjadi kerajaan Melayu. Kerajaan Melayu ini menurut para ahli berpusat di daerah Jambi yang sekarang dan diperkirakan berdirinya pada awal abad ketujuh Masehi. Nama Melayu pertama kalinya muncul dalam cerita Cina. Dalam buku Tseh Fu-ji Kwei diterangkan bahwa pada tahun 664 dan 665 kerajaan Melayu mengirimkan utusan kenegeri Cina untuk mempersembahkan hasilnya pada raja Cina. Pada waktu itu daerah Minangkabau merupakan daerah penghasil merica yang utama di dunia. Rupanya Minangkabau Timur tidak lama memegang peranan dalam perdagangan di Selat Malaka, kareana sesudah muncul kerajaan Melayu dan kemudian sesudah kerajaan Melayu jatuh di bawah kekuasaan Sriwijaya, Minangkabau Timur menjadi bahagian dari kerajan Sriwijaya. Dengan berdirinya kerajaan Melayu dan kerajaan Sriwijaya kelihatan peranan Minangkabau Timur tidak ada lagi, karena berita-berita dari Cina hanya ada menyebut tentang Melayu dan Sriwijaya saja. Dalam satu buku yang disusun oleh It-Tsing dapat kita ketahui bahwa dalam tahun 690 Masehi, Sriwijaya meluaskan daerah kekuasaannya dan kerajaan Melayu dapat ditaklukannya sebelum tahun 692 Masehi. Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan pantai, negara perniagaan dan perdagangan internasional dari Asia Timur ke Asia Barat. Selama lebih kurang enam abad kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan utama di daerah nusantara waktu itu. Namun sementara itu di Jawa mulai timbul kerajaan-kerajaan baru yang lama-kelamaan menjadi saingan utama dari kerajaan Sriwijawa dalam merebut hegemoni perdagangan di wilayah nusantara yang menyebabkan lemahnya Sriwijaya. Dalam hal ini lawan kerajaan Sriwijaya yang utama adalah kerajaan Kediri di Jawa Timur dan Kerajaan Colamandala di India selatan. Dari kelemahan Sriwijaya itu, rupanya kerajaan Melayu dapat melepaskan diri dari Sriwijaya dan dapat memperkuat diri kembali dengan memindahkan ibu kota kerajaan ke daerah hulu Sungai Batang Hari. Kerajaannya dinamakan dengan Darmasraya. Hal ini dapat diketahui dari prasasti Padang Candi tahun 1286 yang terdapat di Sungai Langsat Si Guntur dekat Sungai Dareh dalam Propinsi Sumatera Barat sekarang. Pada tahun 1275, Raja Kertanegara dari kerajaan Singosari (kerajaan yang menggantikan kekuasaan Kediri di Jawa Timur) mengirimkan suatu ekspedisi militer ke Sumatera dalam rangka melemahkan kekuasaan Sriwijaya dan memperluas pengaruhnya di Nusantara. Ekspedisi ini dikenal dalam sejarah Indonesia dengan nama ekspedisi Pamalayu. Sebagai hasil dari ekspedisi itu, maka Kertanegara pada tahun 1286 mengirimkan acara Amogapasa ke Sumatera sebagai hadiah untuk raja dan rakyat kerajaan Melayu. Dengan kejadian ini dapat diartikan, bahwa semenjak peristiwa itu kerajaan Melayu sudah mengikuti kerajaan Singosari dan menjadi daerah tumpuan untuk menghadapi kemungkinan serangan dari negeri Cina akibat peristiwa penghinaan terhadap utusan Cina sebelumnya. 3. Maharajo Dirajo Dalam hal ini timbul suatu kontradiksi keterangan-keterangan, yaitu nama Maharajo Dirajo sudah disebutkan sebelumnya sebagai salah seorang panglima Iskandar Zulkarnain yang tugaskan menguasai Pulau Emas. Kalau memang demikian keadaannya, lalu bagaimana dengan Maharajo Dirajo yang sedang kita bicarakan ini yang waktunya sudah sangat jauh berbeda. Dalam hal ini kita tidak dapat memberikan jawaban yang pasti. Maharajo Dirajo yang sudah kita bicarakan hanya merupakan perkiraan saja dan belum tentu benar. Tetapi berdasarkan logika berfikir kira-kira diwaktu itulah hidupnya Maharajo Dirajo jika dihubungkan dengan nama Iskandar Zulkarnain. Sedangkan Maharajo Dirajo yang sedang dibicarakan sekarang ini adalah seperti yang dikatakan Tambo Alam Minangkabau yang mana yang benar perlu penelitian lebih lanjut. Dalam kesempatan ini kita hanya ingin memperlihatkan betapa rawannya penafsiran dari data yang diberikan Tambo Alam Minangkabau. Maharajo Dirajo yang sekarang dibicarakan adalah Maharajo Dirajo seperti yang dikatakan Tambo. Dalam hal ini kita ingin mengangkat data dari Tambo menjadi Fakta sejarah Minangkabau. Dalam Tambo disebutkan bahwa Iskandar Zulkarnain mempunyai tiga anak, yaitu Maharajo Alif, Maharajo Dipang, dan Maharajo Dirajo. Maharajo Alif menjadi raja di Benua Ruhun (Romawi), tetapi Josselin de Jong mengatakan, menjadi raja di Turki. Maharajo Dipang menjadi raja di negeri Cina, sedangkan Maharajo Dirajo menjadi raja di Pulau Emas (Sumatera). Kalau kita melihat kalimat-kalimat Tambo sendiri, maka dikatakan sebagai berikut: Tatkala maso dahulu, batigo rajo naiek nobat, nan sorang Maharajo Alif, nan pai ka banua Ruhun, nan sorang Maharajo Dipang nan pai ka Nagari Cino, nan sorang Maharajo Dirajo manapek ka pulau ameh nan ko (pada masa dahulu kala, ada tiga orang yang naik tahta kerajaan, seorang bernama Maharaja Alif yang pergi ke negeri Ruhun, yang seorang Maharajo Dipang yang pergi ke negeri Cina, dan seorang lagi bernama Maharajo Dirajo yang menepat ke pulau Sumatera). Dari keterangan Tambo itu tidak ada dikatakan angka tahunnya hanya dengan istilah Masa dahulu kala itulah yang memberikan petunjuk kepada kita bahwa kejadian itu sudah berlangsung sangat lama sekali, sedangkan waktu yang mencakup zaman dahulu kala itu sangat banyak sekali dan tidak ada kepastiannya. Kita hanya akan bertanya-tanya atau menduga-duga dengan tidak akan mendapat jawaban yang pasti. Di kerajaan Romawi atau Cina memang ada sejarah raja-raja yang besar, tetapi raja mana yang dimaksudkan oleh Tambo tidak kita ketahui. Dalam hal ini rupanya Tambo Alam Minangkabau tidak mementingkan angka tahun selain dari mementingkan kebesaran kemasyuran nama-nama rajanya. Percantuman raja Romawi dalam Tambo menurut hemat kita hanya usaha dari pembuat Tambo untuk menyetarakan kemasyhuran raja Minangkabau dengan nama raja di luar negeri yang memang sudah sangat terkenal di seantero penjuru dunia. Dengan mensejajarkan kedudukan raja-raja Minangkabau dengan raja yang sangat terkenal itu maka pandangan rakyat Minangkabau terhadap rajanya sendiri akan semakin tinggi pula. Disini kita bertemu dengan satu kebiasaan dunia Timur untuk mendongengkan tuah kebesaran rajanya kepada anak cucunya. Gelar Maharajo Dirajo sendiri terlepas ada tidaknya raja tersebut, menunjukan kebesaran kekuasaan rajanya, karena istilah itu berarti penguasa sekalian raja-raja yang tunduk di bawah kekuasaannya. Josselin de Jong mengatakan Lord of the Word atau Raja Dunia. Dalam sejarah Indonesia gelar Maharaja Diraja tidak hanya menjadi milik orang Minangkabau saja, melainkan juga ada raja lain yang bergelar demikian seperti Karta Negara dari Singasari dengan gelar Maharaja Diraja seperti yang tertulis pada arca Amogapasa tahun 1286 sebagai atasan dari Darmasraya yang bernama raja Tribuana. Tambo mengatakan bahwa Maharajo Dirajo adalah raja Minangkabau pertama. Tetapi ada pendapat lain yang mengatakan bahwa Srimaharaja Diraja yang disebut dalam tambo sebagai raja Minangkabau yang pertama itu tidak lain dari Adityawarman sendiri yang menyebut dirinya dengan Maraja Diraja. Tentang Adityawarman mempergunakan gelar Maharaja Diraja memang semua ahli sudah sependapat, karena Adityawarman sendiri telah menulis demikian dalam prasasti Pagaruyung. Dari gelar Maharaja Diraja yang dipakai Adityawarman menunjukan kepada kita bahwa sewaktu Adityawarman berkuasa di Minangkabau tidak ada lagi kekuasaan lain yang ada di atasnya, atau dengan perkataan lain dapat dikatakan pada waktu itu Minangkabau sudah berdiri sendiri, tidak berada di bawah kekuasaan Majapahit atau sudah melepaskan diri dari Majapahit. Kerajaan Majapahit adalah ahli waris dari Singasari. Sedangkan Singasari pernah menundukkan melayu Darmasraya, tentu berada di bawah kekuasaan Singasari - Majapahit itu, maka untuk melepaskan diri dari Singasari - Majapahit itu Adiyawarman memindahkan pusat kekuasaannya kepedalaman Minangkabau dan menyatakan tidak ada lagi yang berkuasa di atasnya dengan memakai gelar Maharaja Diraja. Ada sesuatu pertanyaan kecil yang perlu dijawab, yaitu apakah tidak ada lagi kemungkinan bahwa gelar Maharajo Dirajo itu merupakan gelar keturunan bagi raja-raja Minangkabau, sehingga diwaktu Adityawarman menjadi raja di Minangkabau dia merasa perlu mempergunakan gelar tersebut agar dihormati oleh rakyat Minangkabau. Kalau memang demikian, maka kita akan dapat menghubungkannya dengan Maharajo Dirajo yang kita bicarakan kehidupannya sebelum abad Masehi. Tetapi hal ini kembali hanya berupa dugaan saja yang masih memerlukan pembuktian lebih lanjut. Kalau kita mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa Maharaja Diraja itu sama dengan Adityawarman, maka satu kepastian dapat dikatakan bahwa kerajaan Minangkabau baru bermula pad tahun 1347, yaitu pada waktu Adityawarman menjadi raja di Minangkabau yang berpusat di Pagaruyuang. Logikanya tentu sebelum Adityawarman, belum ada raja di Minangkabau, kalau ada baru merupakan daerah-daerahyang dikuasai oleh seorang kepala suku saja. Kalau pendapat itu tidak dapat diterima kebenarannya, maka tokoh Maharajo Dirajo yang disebut di dalam Tambo itu masih tetap merupakan seorang tokoh legendaris dalam sejarah Minangkabau dan hal ini akan tetap mengundang bermacam-macam pertanyaan yang pro dan kontra. Kemungkinan gelar Maharajo sudah dipergunakan sebelum kedatangan Adityawarman memang ada. Tetapi apakah gelar itu merupakan gelar keturunan dari raja-raja Minangkabau masih belum lagi dapat diketahui dengan pasti. Yang jelas pada waktu sekarang ini, banyak gelar para penghulu di Sumatera Barat yang memakai gelar Maharajo sebagai gelar kepenghulunya disamping nama lainnya, seperti Dt. Maharajo, Dt. Marajo, Dt. Maharajo Basa, Dt. Maharajo Dirajo. Kelihatan gelar tersebut dipergunakan oleh masyarakat Minangkabau sebagai gelar pusaka yang turun-menurun. Sebaliknya raja-raja Pagaruyung sendiri tidak mempergunakan gelar tersebut sebagai pusaka kerajaannya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa gelar Maharajo Dirajo tersebut merupakan gelar pusaka Minangkabau dan sudah ada sebelum Adityawarman menjadi raja di Pagaruyung. Barangkali memang gelar itu diturunkan dari Maharajo dirajo seperti disebutkan dalam Tambo itu.

Orang-orang yang diundang Allah Ta’ala untuk berhaji dan berumrah diberikan kesempatan untuk melihat Rumah Allah, memegang

Orang-orang yang diundang Allah Ta’ala untuk berhaji dan berumrah diberikan kesempatan untuk melihat Rumah Allah, memegangnya atau bahkan menciumnya. Yang telah melihat dan memegang menjadi tahu persis bahwa ukuran rumah Allah Ta’ala tidak besar dan bukan terbuat dari emas. Padahal Dia kuasa untuk membuat rumah dari emas yang membuat manusia terpesona dan berduyun-duyun datang untuk melihatnya.

Rumah itu tidak besar dan bukan terbuat dari emas, namun di hari ini satu-satunya tempat yang tidak pernah sepi dari kunjungan manusia adalah Rumah Allah itu. Secara lahiriah rumah itu sederhana, tetapi secara batiniah rumah itu sangat mewah. Tidak ada yang lebih indah  di sisi Allah melebihi orang bertakwa. Pusaran manusia takwa yang tawaf, shalat atau menatap Ka’bah adalah hiasan termewah bagi Ka’bah. Dan di dasar Ka’bah itu tertanam batu-batu yang disusun oleh tangan orang yang lebih mengutamakan Allah di atas segala sesuatu, Nabi Ibrahim as. Fondasi penyanggah itulah permata terindah bagi Ka’bah.

Sebelum Allah Ta’ala memilih Nabi Ibrahim as menjadi Imam bagi segenap manusia dan memerintahkannya untuk menegakkan kembali fondasi Baitullah, Allah menguji beliau dengan beberapa perintah dan larangan. Dari ujian itu terlihat Ibrahim as lebih mengutamakan Allah swt dibandingkan apa pun juga.

Paling tidak ada tiga ujian besar yang membuktikan hal ini, yaitu: ujian dibakar hidup-hidup, ujian menempatkan keluarga di tempat yang tidak ada air dan kehidupan sama sekali; dan ujian menyembelih puteranya dengan tangannya sendiri.

Ujian pertama, dibakar hidup-hidup.

Imam Ibnu Katsir dalam Kitab Qishash al-Anbiyâ menceritakan bahwa Nabi Ibrahim as dilahirkan dan dibesarkan  di Babilonia. Di hari itu hanya ada tiga orang saja yang menyembah Allah swt yaitu: Ibrahim as, istrinya Sarah dan keponakannya Luth.

Orang-orang Babilonia pada waktu itu menyembah patung, bintang, bulan dan matahari. Nabi Ibrahim as mengajak kaumnya untuk meninggalkan sesembahan mereka dan hanya menyembah Allah saja. Kaumnya menolak.

Suatu hari ketika kaumya mengadakan perayaan hari besar agama mereka Ibrahim as menghancurkan berhala-berhala kecil yang ada di dalam kuil mereka dan menyisakan berhala yang terbesar. Ketika mereka kembali ke kuil, mereka mendapati tuhan-tuhan mereka sudah hancur berantakan. Maka tuduhan pun jatuh kepada Ibrahim as karena ia pernah mengancam akan melakukan makar terhadap tuhan-tuhan orang Babilonia itu. Al-Quran menceritakan dialog tersebut:

Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, Hai Ibrahim?”

Ibrahim menjawab: “Justru patung yang besar itulah yang melakukannya. Karena itu tanyakan kepada berhala-berhala(yang sudah hancur) itu, jika mereka dapat berbicara”.(QS. Al-Anbiya:62-63)

Terhenyaklah para penyembah berhala itu karena berhala-berhala yang selama ini mereka agungkan bukan saja tidak bisa membela diri bahkan tidak bisa berkata-kata sama sekali.

Bukannya insyaf  bahkan mereka bertambah marah.

Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.”(QS.Al-Anbiya: 68)

Maka mereka pun bergegas hendak membakar Nabi Ibrahim as. Di sinilah datang ujian bagi beliau. Hanya ada dua pilihan, yaitu tetap berpegang teguh pada agama tauhid dengan konsekuensi dibakar hidup-hidup. Atau, bebas dari pembakaran asalkan melepaskan agama tauhid. Nabi Ibrahim memilih lebih baik dibakar.

Perlu diketahui bahwa tidak ada jaminan sebelumnya dari Allah bahwa Nabi Ibrahim as tidak mempan di bakar. Banyak Nabi lain yang terbunuh di jalan Allah, seperti Nabi Zakariya as dan Yahya as. Ucapan terakhir dari lisannya adalah ‘Cukup Allah bagiku. Dialah sebaik-baik pelindung’.

Dari Ibnu ‘Abbas ra, ia berkata,” Ucapan terakhir yang dikatakan oleh Ibrahim ketika dilemparkan ke dalam api adalah:

‘Cukuplah Allah bagiku dan Dia lah sebaik-baik pelindung’ .” (HR. Bukhari)

Datanglah pertolongan Allah swt.

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (QS.Al-Anbiya: 69)

Allah Ta’ala menyelamatkannya dari api.

Ujian kedua, menempatkan keluarga di tempat yang tidak ada air dan kehidupan sama sekali.

Nabi Ibrahim as diperintahkan Allah swt untuk menempatkan istrinya Hajar dan puteranya Ismail di lembah Makkah yang pada waktu itu tidak ada air dan tumbuhan sama sekali. Resiko pelaksanaan perintah ini adalah kematian istri dan puteranya yang masih bayi itu oleh keganasan alam. Setelah sampai di lembah Makkah, Ibrahim pun bermaksud kembali ke Baitul Maqdis. Ketika akan ditinggalkan Hajar bertanya mengapa Ibrahim as meninggalkan mereka, namun Ibrahim as terus berjalan tanpa menoleh dan tidak dijawab. Akhirnya Hajar bertanya,” Apakah Allah memerintahkannya padamu?” Ibrahim as menjawab,” Ya.” Mendengar jawaban tersebut Hajar berkata,” Kalau begitu pastilah Dia tidak menyia-nyiakan kami.” Lalu Hajar pun menggendong puteranya Isama’il berjalan menuruni lereng menuju perut lembah.

Nabi Ibrahim as terus berjalan, ketika sampai di al-Tsaniyyah, di tempat yang tidak terlihat oleh istrinya Nabi Ibrahim as menghadap ke arah perut lembah Mekkah dan berdoa dengan munajat yang sangat terkenal yang Allah abadikan dalam Surat Ibrahim:

” Wahai Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tumbuhan sama sekali di dekat rumah-Mu yang dimuliakan, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berikanlah rezeki kepada mereka berupa buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. 14:37)

Setelah berdoa dan menyerahkan keluarganya kepada Allah Ta’ala Ibrahim as pun meninggalkan lembah Makkah dan kembali ke Baitul Maqdis, Palestina.

Allah pun menyelamatkan istri dan anaknya.

Ujian ketiga, perintah menyembelih puteranya Ismail dengan tangannya sendiri.

Bila disuruh memilih, lebih baik bagi seorang ayah untuk memotong lehernya sendiri dibandingkan memotong leher anaknya. Kalau pun harus membunuh anak, lebih ringan dengan meminjam tangan orang lain bukan dengan tangan sendiri. Tetapi Allah Ta’ala memerintahkan menyembelih puteranya dengan tangan sendiri.

Ketika isyarat mimpi itu datang, maka Nabi Ibrahim as bertanya kepada puteranya Isma’il yang berumur kira-kira 12 tahun. Al-Quran menceritakan:

Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”(QS. Ash-Shaffat: 102)

Ketika keduanya telah berserah diri kepada Allah, Ismail telah dibaringkan di atas pelipisnya, pisau pun menempel dilehernya, kalau tidak ada pembatalan dari Allah maka anak itu pasti disembelih oleh Ibrahim as. Ketika itulah Allah al-Rahîm membatalkan penyembelihan tersebut.dan menggantikan Ismail dengan seekor kibasy yang besar.

Tiga ujian yang luar biasa! Setelah terlihat betapa Nabi Ibrahim lebih mengutamakan Allah Ta’ala dibandingkan apa pun juga maka Allah memilihnya menjadi pemimpin bagi umat manusia dan memerintahkannya untuk mendirikan kembali Rumah Allah Ta’ala.

Dengan tangan ketakwaannya ia bersama puternya Isma’il as meletakkan fondasi Ka’bah dan menegakkan bangunan Rumah Allah. Sampai hari kiamat nanti batu-batu yang ditanam Ibrahim as di fondasi Ka’bah akan tetap tertancap di sana.

Di sana, Bumi Makkah dan Baitullahnya merekam getaran cinta dan pengorbanan Nabi Ibrahim as yang telah memberikan yang terbaik bagi Allah Ta’ala sebagai bukti ketakwaannya.

Di sini, di hari ini, keadaannya jauh berbeda, kebanyakan kita hanya memberikan ‘sisa-sisa’ untuk Allah, sisa harta, sisa tenaga, sisa waktu, sisa hati dan sisa pikiran padahal Allah swt telah memberikan segala yang terbaik untuk kita. kita bergantung kepada Allah untuk setiap butir nasi yang kita makan, untuk setiap tetes air yang kita minum, untuk setiap desah nafas, untuk setiap detak jantung dan untuk setiap denyut kehidupan.

Setiap kita sedang membangun ketakwaan kepada Allah di dalam hati kita. Rumah yang dibangun dengan puing-puing sisa cepat atau lambat hanya akan menjadi tumpukan puing-puing. Demikian pula ketakwaan yang dibangun dengan puing-puing sisa harta, sisa tenaga, sisa waktu, sisa hati dan sisa fikiran cepat atau lambat hanya kaan menjadi puing-puing ketakwaan. Ketakwaan sejati hanya dapat ditegakkan  dengan ‘mengutamakan Allah di atas segala sesuatu’.

Sumber : http://www.mqtravel.co.id

Baca Artikel Lainnya : MENCIUM HAJAR ASWAD

The bottle Mr. Sokolin famously broke was a 1787 Château Margaux, which was said to have belonged to Thomas Jefferson. Mr. Sokolin had been hoping to sell it for $519,750.

As governor, Mr. Walker alienated Republicans and his fellow Democrats, particularly the Democratic powerhouse Richard J. Daley, the mayor of Chicago.

Artikel lainnya »